Disqus for langgart

Ternyata Manunggaling Kawulo Gusti Sebagai Manifestasi Sifat Tuhan Menurut Syekh Siti Jenar

SYEKH SITI JENAR membahasnya tentu kita akan mengingat sejarah Walisongo. Sebab kedudukan Syekh Siti Jenar dalam keanggotaan Walisongo senantiasa menjadi perdebatan. Beberapa peneliti menuliskan bahwa Syekh Siti Jenar adalah salah satu dewan Walisongo dengan peringkat wali pokok sedangkan yang lain mengatakan Syekh Siti Jenar sebagai wali pengganti.

Keanggotaan Walisongo menurut beberta versi; versi Babad Demak dan Babad Tanah Jawa tidak menyebutkan Syekh Siti Jenar sebagai dewan Walisongo. Sedangkan versi Carita Purwaka Caruban Nagari, Babad Tanah Sunda, Babad Cirebon menyebutkan Syekh Siti Jenar adalah salah satu anggota Walisongo.

Dalam kita Negara Kertabumi mengisahkan cukup luas dan terhormat tentang silsilahnya. Ia dilahirkan di semenanjung Malaka putra Syekh Datuk Soleh, adik sepupu Syekh Datuk Kahfi seorang penyebar agama Islam di Jawa Barat. Bahkan ia masih memiliki hubungan darah dengan Sunan Ampel serta para wali lainnya. Setelah dewasa ia pergi ke Persi dan bermukim beberapa lama di Bagdad. Lalu ia pergi ke Gujarat dan kembali ke Malaka. Saat itu beliau menikahi wanita dan menurunkan beberapa anak antara lain Ki Datuk Bardud, Ki Datuk Fardun.
Syekh Siti Jenar versi Tan Khoen Swie mengungkap fakta lain bahwa dijelaskan asal usul Syekh Siti Jenar dari Tanah Arab bukan orang Jawa asli. Bagaimana ceritanya mari kita ikuti serat Walisana terbitan Tan Khoen Swie yang didasarkan salinan Harjawijaya tahun 1918,

Besarlah perguruan Sunan Giri
dicintai para ulama,
adalah seorang muridnya,
dari negeri Siti Jenar,
bernama San Ngali Ansar,
terkenal dari tempat tinggalnya,
disebutlah ia Syekh Siti Bang.

Nama asli Syekh Siti Jenar adalah San Ngali Ansar atau Hasan Ali Ansar. Dari namanya timbul dugaan bahwa dia berasal dari Tanah Arab bukan berasal dari tanah Jawa asli. Namun ada pula yang beranggapan bahwa Syekh Siti Jenar tidak lain adalah Raden Abdul Jalil. Nama Siti Jenar  diduga merupakan nama tempat tinggal yaitu Paguron Murid Sunan Giri. Nama Syekh Lemah Abang sendiri bukan merupakan nama tempat melainkan nama muasal yaitu tanah merah (lemah abang). Dalam hal tempat tinggal, ada yang menyebut Syekh Siti Jenar bermukim di Krendhasawa sekitar Jepara, Jawa Tengah

Syekh Siti Jenar memang dianggap tokoh kontroversial selain apakah ia menjadi anggota dewan wali, bahkan tentang siapa dirinya pun acap kali menjadi perdebatan. Tentang dirinya maksudnya adalah apakah Syekh Siti Jenar itu tokoh fiktif belaka yang menjadi simbol untuk orang-orang yang mengaku Tuhan. Tokoh yang dimunculkan untuk membangun opini publik tentang keberhasilan dakwah dan kepemimpinan Walisongo dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa dan menumpas kelompok oposisi yang tidak tunduk kepada Kasultanan Demak.

Syekh Siti Jenar dianggap kontroversial karena bervariasinya asal usul dan jati diri Syekh Siti Jenar, selain itu dalam pandangan Abdul Munir Mulkhan orang yang banyak menulis buku dan mempopulerkan nama Syekh Siti Jenar di awal abad 21, masih meragukan apakah nama Syekh Siti Jenar benar-benar pernah hidup di bumi Nusantara ini tidaklah jelas. Walaupun dikenal luas oleh masyarakat Jawa, keraguan tersebut hilang karena adanya dokumen Kropak Ferrara atau Lontar Ferrara.

Lontar Ferrara adalah karya tulis yang memuat petuah keagamaan yang diyakini berasal dari Jaman Kawalentersebut (Jaman Kewalen atau Jaman Kuwalen adalah ungkapan masyarakat Jawa dan juga ungkapan populer yang termuat dalam sejumlah naskah klasik Jawa untuk menyebut era dimana yang diyakini para anggota Wali Sanga hidup). Naskah ini ditulis di atas daun “Tal” (Lontar) yang terdiri dari 23 lembar berukuran 40 x 3,4 cm dan saat ini tersimpan di Perpustakaan Umum Ariostea di Ferrara, Italia (G. W. J. Drewes, Perdebatan Walisongo Seputar Makrifatullah, Terjemahan dari An Early Javanese Code of Muslim Ethics penerjemah: Wahyudi, Surabaya: Alfikr, 2002, p. 1). Oleh karena itu maka naskah ini sering diidentifikasi sebagai “Lontar Ferrara” atau “Kropak Ferrara”. Naskah ini secara sistematik berisi tentang panduan hidup agar menjadi muslim yang kaffah dan pada saat yang sama juga bertujuan menarik para pemeluk Islam baru dan harapan agar masyarakat Jawa.

Bagian awal dari Lontar Ferrara yang bercerita tentang sarasehan para wali diperkirakan ditulis dari era sekitar awal abad XVIII. Sedangkan teks lainnya yang berisi tentang wejangan keagamaan dan ini merupakan bagian terbesar dari isi naskah, tidak diragukan mencerminkan abad XVI atau bahkan abad XV. Teks kedua ini banyak menggunakan kosa kata bahasa Jawa kuno, mirip dengan bahasa dalam kitab Pararaton. Teks kedua ini pun nampak merupakan salinan dari naskah lain yang lebih tua usianya.

Namun sebagian yang lain berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar memang benar-benar tokoh nyata yang hidup dalam kurun waktu tertentu, dengan dikaitkannya sejarah perkembangan Kasultanan Demak di Bintara dan Kerajaan Pajang di Pengging Boyolali Jawa Tengah. Dikaitkan dengan keberadaan Ki Kebokenanga atau Ki Ageng Pengging yang mejadi murid Syekh Siti Jenar. Adapun Ki Ageng Pengging adalah keturunan Prabu Brawijaya V yang hidup di daerah Pengging, desa yang jauh dari keramaian kota. Jaka Tingkir atau Mas Karebet sebagai putra dari Ki Pengging merupakan menantu Sultan Trenggono yang akhirnya menggantikan sebagai raja di Demak dengan gelar Hadiwijaya. Kemudian setelah Sultan Hadiwijaya menjadi raja ia memindahkan kendali kerajaan Pajang, Boyolali Jawa Tengah.

Namun demikian kita mampu mengambil nilai-nilai dokumen yang ditemukan. Seperti halnya dalam pandangan Syekh Siti Jenar manusia adalah manifestasi Tuhan. Manifestasi di sini sebagaimana teori tajalli yaitu Tuhan memiliki dua wajah (tanzih dan tasbih). Tanzih berarti mensucikan Allah, antara dzat Tuhan dan dzat manusia berbeda. Sedangkan tasbih berarti antara Tuhan dan manusia bersatu dalam sifatnya.

Jadi manunggaling kawulo gusti bukan berarti sebagai manifestasi secara dzatnya tapi sifatnya. Sehingga ketika Tuhan memiliki sifat sabar, pandai, pemaaf, pemudah, dan lain sebagainya maka manusia juga memiliki potensi sifat tersebut yakni sifat Tuhan. Namun dalam kadar yang berbeda antara makhluk dengan Tuhannya. (Pondokbanjar)

Post a Comment

1 Comments

  1. Bismillah

    Lucu ya, sang Pencipta menyatu dengan ciptaannya.

    Nabi Musa pengen liat aja sampe pingsan
    kok ini bergabung, lu kira Power Rangers

    Kurang main SUDOKU kayaknya

    https://orthodoxlicious.blogspot.com/2019/04/manunggaling-kawula-gusti-wihdatul-wujud.html

    ReplyDelete