Disqus for langgart

Isi Kandungan Kitab al-Hikam Karya Syeikh Ibn 'Atha'illah as-Sakandari

KITAB  AL-HIKAM  membahas  tentang tauhid dan akhlak yang mengarah kepada Tasawuf Islam.  Al-Hikam  merupakan mutiara-mutiara cemerlang untuk meningkatkan kesadaran spritual, tidak hanya bagi para salik dan murid-murid tasawuf, tetapi juga untuk umumnya para peminat olah batin.

Untaian mutiaranya telah mempesona jutaan hamba pencari keindahan Sang Maha  Indah. Hidup akan diliputi kegamangan bila kita tidak tahu tujuan hidup kita. Dalam buku ini, kita diajak menyelami isi kandungan dari kitab  al-Hikam  yang di dalamnya terkandung hikmah-hikmah Ibnu Athaillah, agar hidup kita menjadi bermakna, tenteram dan indah. al-Hikam menyediakan arahan kepada kaum beriman untuk berjalan menuju Allah Swt, lengkap dengan rambu-rambu peringatan, dorongan dan penggambaran keadaan tahapan serta kedudukan rohani.

Kitab  al-Hikam dipandang sebagai kitab kelas berat bukan saja karena struktur kalimatnya yang bersastra tinggi, melainkan juga kedalaman makrifat yang dituturkan lewat kalimat-kalimatnya yang singkat. Ia menjadi kitab yang bahasanya luar biasa indah. Kata dan makna saling mendukung melahirkan ungkapan-ungkapan yang menggetarkan.

Diantara kandungan dari isi kitab  al-Hikam adalah sebagai berikut:

1. Pasrah kepada Allah Swt
Tidak boleh bergantung kepada amal

“Tanda-tanda orang yang arif dalam amal,  ia tidak membanggakan amal ibadahnya. Berkurangnya harapan kepada Allah ketika terjadi kekhilafannya kepada Allah.”

Orang yang arif adalah orang yang tidak membanggakan amal ibadahnya. Orang seperti ini kurang pengharapannya kepada Allah, ketika ia berhadapan dengan rintangan yang menimpa. Sedangkan sifat orang yang bijaksana dalam meneguhkan imannya kepada Allah selalu berpegang teguh  kepada kekuasaan yang ada pada Allah.

Para arifin dalam imannya kepada Allah selalu menyaksikan kebenaran-Nya dari atas permadani dalam hidupnya. Ia tidak dapat memutuskan hubungannya dengan Allah karena telah menyaksikan kebesaran Allah dari hidupnya sendiri. Ia tidak menjadikan amal ibadahnya sebagai suatu kewajiban seorang hamba kepada Khaliq yang senantiasa ia khawatirkan, kalau ibadahnya itu tidak diterima oleh Allah Swt.

Penjelasan Perihal orang-orang shadiqin di dalam tajrid 
“Kehendakmu agar semata-mata beribadah, padahal Allah sudah menempatkan dirimu sebagai golongan orang yang harus berusaha untuk mendapatkan kehidupan duniamu (sehari-hari), maka keinginan seperti itu termasuk perbuatan (keinginan) syahwat yang halus. Sedangkan keinginan untuk berusaha, padahal Allah telah menempatkan dirimu di antara golongan yang semata-mata beribadah, mengikuti keinginanmu itu, berarti engkau telah turun dari semangat dan cita-cita yang tinggi”.

Ungkapan tajrid di atas berarti meninggalkan sebab yang menjadi jalan untuk menemukan apa yang seharusnya dijalankan oleh orang-orang shadiqin, yakni dengan melaksanakan suatu sebab tidak membiarkan dirinya jatuh kepada perbuatan yang salah, karena berniat meninggalkan urusan duniawi, sebab semata-mata hendak beribadah.

Watak yang dimiliki oleh orang  shadiqin,  ialah tidak meninggalkan dunia karena akhirat, dan tidak meninggalkan akhirat sebab dunia. Hubungan timbal balik antara dunia dan akhirat seperti yang dikehendaki oleh Islam, adalah suatu keharusan yang patut diusahakan dan ditunjang dengan perilaku akhlak Islami yang akan menunjang semua hal yang menyangkut urusan duniawi dan ukhrawi.

Perjuangan tidak merubah takdir
“Himmah (kuatnya kemauan) yang bergelora,  tidak akan mampu mengoyak tabir takdir Allah.”

Kemauan keras  (himmah sawabiq)  termasuk suatu kekuatan yang dimiliki manusia atas izin Allah untuk memperoleh sesuatu yang dicari dalam kehidupan duniawi. Kemauan keras ini adalah pendorong untuk memperoleh suatu cita-cita. Namun demikian semangat dan cita-cita hamba Allah, tetap berkaitan erat iradat dan izin Allah (takdir Allah).

Pada akhirnya segala kekuatan yang dimiliki manusia itu terbatas dan akan tertambat pada kehendak dan takdir Allah. Karena cita-cita yang keras dan bersemangat tidak mampu menerobos takdir Allah.

Akan tetapi dalam banyak hal, ketika seorang merasakan adanya kemauan dalam dirinya untuk mendapatkan apa-apa yang ia cita-citakan, maka kemauan keras itu hendaklah tersalurkan bersama gerakan iman yang yang memenuhi seluruh kalbunya. Karena iman inilah yang mengatur himmah yang dimiliki oleh seseorang. Apakah ia tunduk kepada takdir Allah ketika ia melaksanakan panggilan  himmah-Nya ataukah ia menolak. Apabila ia menerima qada‟ dan qadar Allah membuat orang beriman menjadi tenang. Ia tidak berputus asa dan tidak menyesali dirinya. Ia pun tidak berprasangka buruk kepada Allah dan kepada manusia.

Ihwal orang-orang yang arif dalam persoalan tadbir
“Tenangkan dirimu dari memikirkan urusan duniawi, karena apa yang telah direncanakan oleh Allah Ta‟ala bagimu, tidak perlu kamu sibuk memikirkannya”.

Tadbir  itu adalah rencana masa depan seorang hamba sesuai dengan kemauan dan kesanggupannya. Hal ini bukannya tidak diperkenankan kepada manusia, akan tetapi manusia perlu memahami bahwasannya sebagai sesuatu yang berlaku dalam hidup di dunia ini, telah diatur oleh Allah Ta‟ala atas diri seseorang, maka tidak perlu ia ikut mengaturnya. 

2. Ikhlas 
Ruh amal adalah ikhlas
“Amalan dzahir adalah kerangka sedangkan ruhnya adalah ikhlas yang terdapat dengan tersembunyi dalam amalan itu.”


Tanda dari semua kemakrifatan dan sifat  al-ihsan  kepada Allah tidak lain adalah tekun dan rajin beribadah. Itu semua dilaksanakan menurut kehendak dan niat tiap hamba. Memperbanyak amal ibadah juga menurut kemauan dan kemampuan seorang hamba. Ada yang bagus sholatnya, ada yang bagus puasanya, dan ada pula yang bagus sedekah dan infaqnya. Di samping itu ada pula yang tekun mempelajari ilmu. Amal ibadah itu terikat dengan niat seseorang menempatkan niat dalam hatinya ketika ia beramal.

Amal ibadah yang kuat tegaknya dan kokoh ikatannya dengan iman ialah dilaksanakan oleh hati yang ikhlas. Karena ikhlas adalah roh amal, dan amal itu menunjukkan tegaknya iman.

Beribadah hanya kepada Allah
“Barang siapa menyembah Allah karena  mengharapkan sesuatu yang lain, atau karena menolak bahaya yang akan menimpa dirinya, maka ia belum menunaikan tugasnya terhadap Allah sesuai dengan sifat-sifat yang dimilki-Nya.”

Amal perbuatan yang dilakukan oleh para hamba Allah, tidak akan memperoleh apa pun apabila amal tersebut dikaitkan kepada sesuatu selain Allah. Karena amal seperti itu sangat erat dengan kehendak lain yang sama sekali tidak bernilai ibadah murni. Amal ibadah yang sampai dan diterima oleh Allah adalah amal ibadah yang semata-mata didasarkan untuk mencapai kerindhaan Allah.

Beramal agar termasyur
“Tanamlah wujud dirinya pada tanah yang dalam, karena tidak akan tumbuh suatu tanaman pun, apabila ia tidak ditanam.”

Tidak ada amal perbuatan yang lebih berbahaya dari keinginan beramal agar termasyhur. Karena perbuatan itu walaupun demi kebaikan namamu, akan tetapi bertolak sebagai amal yang ikhlas. Keinginan agar terkenal sebagai ahli ibadah, apabila diikuti dengan kehendak lain yang bukan ibadah akan membawa si hamba menjadi angkuh dan lupa diri.

3.  Memperbaiki diri
Tanda-tanda hati yang mati
“Diantara tanda-tanda hati yang mati, ialah tidak ada rasa sedih, apabila telah kehilangan kesempatan untuk melakukan ta‟at kepada Allah, tidak juga menyesal atas perbuatan (kelalaian) yang telah dilakukannya”.

Hati yang di dalamnya hidup dengan keimanan akan merasa sedih apabila iman dan ta‟at itu hilang daripadanya. Hati yang beriman itu sangatlah senang apabila ia telah melaksanakan kebaikan atau ketaatan.


Jangan meremehkan amal
“Tidak ada amal yang lebih diharapkan memperoleh pahala, daripada amal yang engkau lihat sangat enteng, dan engkau anggap remeh keadaannya”

Seorang mukmin sejati beramal semata-mata karena Allah. Tidak ada maksud lain dibalik amal yang diwujudkan bagi hubungannya dengan Allah.

Seorang hamba wajib melaksanakan amal itu secara kontinyu dalam bentuk apa pun, dan tidak merasa bosan karena sesuatu dalam mewujudkan hubungannya dengan Allah.

Penundaan amal ibadah
“Penundaanmu untuk beramal karena menanti waktu senggang, adalah timbul dari hati yang bodoh”

Adapun sifat hamba yang dungu, adalah orang yang suka mempermainkan waktu dan bermain-main dengan waktu, dengan cara menunda amal, atau menomor-duakan amal, sehingga amal ibadahnya tertunda oleh waktu yang sempit, atau menghabiskan waktu untuk kepentingan yang lain, sehingga waktu untuk kepentingan yang lain tertinggal.

Orang yang beramal dengan menanti-nanti waktu senggang sama halnya dengan orang yang dipermainkan oleh waktu. Waktu berjalan  terus, sedangkan waktu luang belum juga ada, sehingga amal pun belum dilaksanakan. Apabila jika waktu beramal sangat kecil, sehingga peluang untuk beramal sudah tidak mencukupi.

Yang tersembunyi di dalam hati
“Apa yang tersimpan dan dirahasiakan keghaibannya (hati), bekasnya nampak pada kenyataan lahiriah”

Ini adalah penjelasan tentang yang ghaib. Tentang suara dan wujud hati nurani yang ada di kedalaman jiwa manusia. Apa yang nampak pada keadaan lahiriah seorang hamba, begitu pula keadaan yang ada di dalam bathiniahnya.

Karena yang lahir itu adalah cermin yang bathin. Wujud yang nampak akan menggambar keadaan yang tersembunyi. Itulah keadaan yang sebenarnya dari orang yang telah sampai ke tingkat makrifat. Lahir dan bathinnya sama. Pada wajah orang yang arif dapat semua yang tersimpan dalam kalbunya. Wajah yang bersih bercahaya menunjukkan pula kalbu yang bersih bercahaya.

4.  Berharap kepada Allah
Harapan dan angan-angan
“Harapan (raja‟) adalah kehendak yang harus diikuti dengan amal perbuatan, kalau tidak demikian maka hanya angan-angan.”

Sifat raja‟ adalah sifat hamba yang menempatkan kepada maqam yang mulia, dan termasuk sifat orang yang yakin, tumbuh atas kesungguhan isi hamba yang suka melaksanakan amal seperti dzikir dan ibadah yang lainnya.,yang memerlukan kesungguhan. Untuk memperoleh harapan dalam bentuk ibadah diperlukan kesungguhan untuk mencapainya.

Permohonan orang-orang yang arif
“Permohonan orang-orang yang arif, yang diharapkan dari Allah, agar mendapat kekuatan dalam kesungguhan beribadah dan tetap teguh menunaikan hak-hak dan kewajibannya kepada Allah.”

Harapan yang diminta oleh para arifin dari Allah sama seperti para ahli ibadah lainnya, dan para ahli zuhud, ulama‟, dan lainnya. Tiada lain hanyalah agar sungguh-sungguh beribadah dan teguh kokoh dalam menegakkan kewajibaan kepada Allah.

5.  Mendekatkan diri kepada Allah
Uzlah adalah pintu tafakkur
“Tak ada sesuatu yang lebih bermanfaat atas hati sebagaimana uzlah, sebab dengan memasuki uzlah alam pemikiran kita akan menjadi lapang.”

Dalam  uzlah  alam pikiran manusia akan menjadi tenang dan luas jangkauannya, wawasan berpikirnya pun bertambah, sedangkan jiwanya menjadi bersih dan tentram. Dalam keadaan tenang manusia mampu berfikir tentang ciptaan Allah, dan kebesaran Allah sebagai Maha Penciptaalam semesta serta isinya.

Buah amal ibadah
“Barang siapa yang dapat merasakan buah amal ibadahnya di dunia, itulah tanda diterimanya amal ibadahnya di akhirat.”

Buah amal ibadah dapat dirasakan manisnya, dapat diketahui dari kelezatan dan kenikmatan di waktu seorang hamba melaksanakan ibadah-ibadahnya, terasa sebagai nikmat yang tak ada taranya. Apabila seorang hamba belum mampu merasakan manisnya amal dan ibadahnya, berarti  ia belum mengenyam buahnya ibadah, apabila buah amal ibadah itu belum dirasakan berarti dia belum mendapatkan sesuatu pun. Di akhirat pun ia tidak menikmati hasil amal ibadahnya sendiri.

6.  Tidak boleh berputus asa
Berbaik sangka kepada Allah Swt
“Jika seorang hamba tidak berbaik sangka terhadap Allah, karena kebaikan sifat-sifat-Nya, hendaklah kalian berbaik sangka  terhadap-Nya, karena nikmat dan rahmat yang telah kalian terima dari-Nya. Dia (Allah) hanya membiasakan memberikan nikmat kepada kalian, dan hanya menhanugerahkan kebaikan kepada kalian”

Boleh berprasangka kepada Allah, selama itu prasangka baik. Prasangka yang baik adalah prasangka orang-orang yang beriman dan saleh, yang hanya berharap kepadaa ridho Allah semata. Allah akan tetap merahmati dan memberkati orang-orang yang berprasangka baik kepada Allah.  Baik dengan sifat-sifat Allah atau karena Allah telah membuktikan pemberian-Nya kepada manusia dan alam ini.

Maksiat dan rahmat Allah
“Kemaksiatan yang menimbulkan rasa rendah diri dan harapan (akan rahmat dan belas kasih Allah), lebih baik daripada ta‟at yang memberikan rasa mulia diri dan keangkuhan.”

Perasaan hina dan rendah diri karena perbuatan maksiat yang melekat pada diri, adalah sifat hamba (ubudiyah). Dan perasaan Maha Mulia dan Maha Besar adalah sifat  (Rububiyah). Adapun sifat seperti yang dimaksud adalah sikap yang harus dimiliki oleh hamba yang melekat pada dirinya dosa-dosa, hendaklah ia tidak merasa hina dan rendah diri. Ia harus berpengharapan penuh kepada Allah. Orang yang seperti ini adalah orang yang lebih baik dariorang yang telah banyak beribadah dan ta‟at kepada-Nya, akan tetapi tumbuh rasa angkuh dan tinggi diri dengan amal ibadahnya itu.

Bencana sebagai ujian
“Sebenarnya kesusahan dari bencana yang menimpamu akan menjadi ringan, apabila kalian sudah mengetahui bahwa Allah sedang mengujimu. Sedang Dia-lah yang sedang mencoba melalui qadar-Nya. Dia juga yang telah menganugrahkan kamu unutuk mengadakan pilihan yang baik.”

Apabila manusia memahami bahwasannya suatu cobaan yang datang dari Allah, diterima dengan ridha hati dan dipahami pula sebagai menjadi sesuatu yang sangat ringan. Allah memberi cobaaan kepada para hamba-Nya, tidaklah berarti Allah membenci, akan tetapi Allah menunjukkan kasih sayang dengan memperhatikan hamba yang dicoba itu.

Berikut ini adalah video perumpamaan bagaimana manusia menyatu dengan lumpur atau tanah. Bawasanya tanah adalah simbol kerendahan, dan sesungguhnya manusia diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah pula:


Sumber bacaan:
Salim Bahreisy, Terjemah Kitab Al-Hikam, Surabaya: Balai Buku, 1980
Ahmad Athaillah, Mutu Manikam dari Kitab Al-Hikam, Surabaya: Mutiara Ilmu, 1995
http://id.shvoong.com/humanities/religion-studies/1976519-al-hikam-untaian-hikmah-ibnu/

Post a Comment

0 Comments