Disqus for langgart

Jalaluddin Rumi Berbicara Tentang Cinta, Sebuah Konsep Cinta

BAGAIMANA menerangkan cinta? Akal yang berusaha menjelaskannya adalah seperti keledai di dalam paya. Dan pena yang berusaha menggambarkannya, akan hancur berkeping-keping. Begitulah kata Maulana dalam bagian pendahuluan Matsnawi:
 

“Bagaimana keadaan sang pencinta?”

Tanya seorang lelaki

Kujawab, “Jangan bertanya seperti itu, sobat;

Bila engkau seperti aku, tentu engkau akan tahu;

Ketika Dia memanggilmu,

engkaupun akan memanggil-Nya”

Cinta itu pra-abadi, cinta itu magnit, sejurus lamanya cinta benar-benar menyirnakan jiwa, kemudian ia pun menjadi perangkap yang menjerat burung-jiwa, yang kepada burung-jiwa inilah cinta menawarkan minuman anggur realitas, dan semua ini “hanyalah permulaan cinta, tidak ada manusia yang dapat mencapai ujungnya. Maulana suka berbincang-bincang  dengan cinta untuk mencari tahu bagaimana rupa cinta itu:

Suatu malam kutanya cinta : “Katakan,

siapa sesungguhnya dirimu?

Katanya : “Aku ini kehidupan abadi,

aku memperbanyak kehidupan indah itu”

Kataku : “ Duhai yang di luar tempat,

di manakah rumahmu?”

Katanya : “ Aku ini bersama api hati,

dan di luar mata yang basah,

Aku ini tukang cat; karena akulah setiap pipi

berubah jadi berwarna kuning.

Akulah utusan yang ringan kaki,

sedangkan pencinta adalah kuda kurusku.

Akulah merah padamnya bunga tulip.

harganya barang itu,

Akulah manisnya meratap, penyibak

segala yang tertabiri.....”

Rumi menyebutkan bahwa yang pertama diciptakan Tuhan adalah cinta. Dari sinilah Rumi menganggap cinta sebagai kekuatan kreatif paling dasar yang menyusup ke dalam setiap mahluk dan menghidupkan mereka. Cinta pulalah yang bertanggungjawab menjalankan evolusi alam dari materi anorganik yang berstatus rendah menuju level yang paling tinggi pada diri manusia. 

Menurut Rumi cinta adalah penyebab gerakan dalam dunia materi, bumi dan langit berputar demi cinta. Ia berkembang dalam tumbuhan dan gerakan dalam makhluk hidup. Cintalah yang menyatukan partikel-partikel benda. Cinta membuat tanaman tumbuh, juga meggerakkan dan mengembang-biakkan binatang, seperti dalam karyanya:

Cinta adalah samudra (tak bertepi) tetapi langit menjadi sekedar,

Serpihan-serpihan busa; (mereka kacau balau) bagaikan perasaan

Zulaikha yang menghasrati Yusuf.

Ketahuilah bahwa langit yang berputar, bergerak oleh deburan

gelombang cinta; seandainya bukan karena cinta, dunia akan (mati)

membeku

Bagaimana benda mati lenyap (karena perubahan) menjadi

tumbuhan? Bagaimana tumbuhan mengorbankan dirinya

demi menjadi jiwa (yang hidup)?

Bagaimana jiwa magorbankan dirinya demi Nafas yang merasuk

ke dalam diri Maryam yang sedang hamil?

Masing-masing (dari mereka) akan menjadi diam dan mengeras

bagaikan es bagaimana mungkin mereka terbang dan

mencari seperti belalang?

Setiap manik-manik adalah cinta dengan Kesempurnaannya dan

segera menjulang seperti pohon.

Cinta menurut Rumi, bukan hanya milik manusia dan makhluk hidup lainnya tapi juga semesta. Cinta yang mendasari semua eksistensi ini disebut “cinta universal”, Cinta ini muncul pertama kali ketika Tuhan mengungkapkan keindaha-Nya kepada semesta yang masih dalam alam potensial.

Keindahan cinta tidak dapat diungkapkan dengan cara apapun, meskipun kita memujinya dengan seratus lidah. Begitulah kata Maulana Rumi, seorang pecinta dapat berkelana dalam cinta, dan semakin jauh pecinta melangkah, semakin besar pula kebahagiaan yang akan diperolehnya. Karena cinta itu tak terbatas Ilahiah dan lebih besar dibanding seribu kebangkitan. Kebangkitan itu merupakan sesuatu yang terbatas, sedangkan cinta tak terbatas.

Kadang Rumi menggambarkan cinta sebagai “astrolabe rahasia-rahasia Tuhan” yang menjadi petunjuk bagi manusia untuk mencari Kekasihnya. Karena itu, cinta membimbing manusia kepada-Nya dan menjaganya dari gangguan orang lain. “Cinta” kata Rumi adalah astrolabe misteri-misteri Tuhan. Kapanpun cinta, entah dari sisi (duniawi) atau dari sisi (langit)-Nya, namun pada akhirnya ia membawa kita ke sana.

Dalam bayangan Rumi, kadangkala cinta digambarkan sebagai api yang melalap segala sesuatu selain sang kekasih. Karena itu, cinta Ilahi dapat menjauhkan manusia dari syirik (penyekutuan Tuhan) dan mengangkatnya ke tingkatan yang tertinggi dari tawhid.

Menurut Rumi, cinta adalah sayap yang sanggup menerbangkan manusia yang membawa beban berat ke angkasa raya, dan dari kedalaman mengangkatnya ke ketinggian, dari bumi ke bintang Tsuryya. Bila cinta ini berjalan di atas gunung yang tegar, maka gunung pun bergoyang-goyang dengan riang.

Cinta adalah penyakit, tapi ia dapat membebaskan penderitanya dari segala macam penyakit lain. Apabila penyakit cinta menimpa seseorang, maka dia tidak akan ditimpa penyakit lain, ruhaninya menjadi sehat, bahkan nyawanya adalah kesehatan, yang semua orang ingin membelinya. Demikian ia melukiskan dalam sebuah syairnya:

Perih cinta inilah yang membuka tabir hasrat pecinta;

Tiada penyakit yang menyamai duka cinta hati ini;

Cinta adalah sebuah penyakit karena berpisah, isyarat

Dan astrolabium rahasia-rahasia Ilahi.

Apakah dari jamur laut atau jamur bumi,

Cintalah yang menimbang kita ke sana pada akhirnya;

Akal kan sia-sia bahkan mengelepar tuk menerangkan cinta,

Bagai keledai dalam lumpur;

Cinta adalah sang penerang cinta itu sendiri.

Bukankan matahari yang menyatakan dirinya matahari,

Perhatikanlah ia! Seluruh bukit yang kau cari ada di sana.

Jalaluddin Rumi mengatakan bahwa cinta adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri.  Hanya mereka yang berjubah cinta sajalah yang sepenuhnya tidak mementingkan diri. Sesungguhnya, “cinta” menjadi satu-satunya kendaraan transformasi. Dalam sajaknya ia berkata:

Melalui cinta duri menjadi mawar, dan

Melalui cinta cuka menjadi anggur manis

Melalui cinta tonggak menjadi duri

Melalui cinta kemalangan nampak seperti keberuntungan

Melalui cinta  penjara nampak seperti jalan yang rindang

Melalui cinta tempat perapian yang penuh abu nampak seperti taman

Melalui cinta api yang menyala adalah cahaya yang menyenagkan

Melalui cinta setan menjadi Houri

Melalui cinta batu keras menjadi selembut mentega

Melalui cinta  duka adalah kesenangan

Melalui cinta hantu pemakan mayat berubah menjadi malaikat

Melalui cinta sengatan adalah seperti madu

Melalui cinta singa adalah sejinak tikus

Melalui cinta penyakit adalah kesehatan

Melalui cinta sumpah serapah adalah seperti balas kasih

Cinta seperti samudera yang tak bertepi, meskipun gelombangnya adalah darah atau api. Pecinta, ketika berenang-renang di sana, seperti ikan yang bersuka ria, berapapun banyaknya ikan itu meminum airnya, maka samudera itu pun tak akan pernah berkurang airnya, karena samudra itu awal dan sekaligus akhir segalanya.

Cinta dapat pula seperti sungai yang airnya sangat deras yang dapat mencuci bersih segalanya. Jika cinta dapat membersihkan dengan api, maka cinta pun dapat membersihkan dengan air. Sesungguhnya cinta merindukan mereka yang kotor, supaya cinta dapat membersihkan noda-noda mereka.

Cinta juga dapat dipandang sebagai pohon, sedangkan para pecinta sebagai bayang-bayangnya yang bergerak ketika dahan dan ranting pohon tersebut bergerak-gerak. Dahan dan rantingnya ada dalam pra keabadiaan, sedang akarnya dalam keabadian. Pohon tersebut tidak memiliki awal atau akhir di dunia waktu dan ruang. Di sini Rumi membuat persamaan yang sekilas bahwa cinta itu seperti tumbuhan menjalar yang sepenuhnya mengitari pohon (manusia natural) yang menutupi pohon itu sampai kerantingnya yang terakhir, sehingga pada akhirnya yang ada hanyalah cinta.

Cinta bisa tampil sebagai kekuatan feminim, sebab ia adalah ibu yang melahirkan umat manusia. Cinta adalah Maryam praabadi, yang mengandung berkat ruh suci, seorang ibu yang merawat anaknya dengan lembut.

Cinta adalah anggur dan sekaligus pelayan minuman, dan minumannya racun sekaligus obat penawar. Ia adalah anggur keras dan membawa manusia ke keabadian. Akibat anggur seperti itu,” setiap orang merasa kepanasan sehingga pakaiannya tampak terlalu ketat dan kemudian dia melepaskan penutup kepalanya dan membuka ikat pinggangnya”. Pecinta terisi anggur cinta, bahkan pecinta menjadi botol atau piala cinta itu sendiri.

Demikianlah Maulana dalam memperingkatkan pembacanya agar ingat bahwa orang yang tidak mabuk itu tercela dihadapan jemaah cinta. Pada saat sampai pada puncak kemabukan cinta, maka terjadilah perkawinan jiwa yang menggambarkan persatuan mistik. Dalam persatuan inilah perbedaan antara pecinta dan kekasihnya sirna oleh perubahan ke dalam hakikat cinta universal. Dengan indahnya,Rumi menggambarkan perkawinan jiwa itu dalam sebuah syairnya:

Bahagia pada saat itu, ketika kita duduk

Bersanding dipelataran istana, Kau dan aku

Dalam dua bentuk, dalam dua tubuh, tapi satu jiwa,

Kau dan aku........

Kau dan aku, yang tak lagi saling menyendiri,

Kau hanyut dalam ekstase tiada bandingnya lagi ......

Di satu tempat di mana kita bergerak mesra, Kau dan aku

Sungguh menakjukkan, bahwa Kau dan aku duduk di sini,

Pada sudut taman yang sama,

Berada pada saat yang sama berada di Irag dan Khurasan jua,

Kau dan aku.

Di bawah pengaruh Syams, Rumi mulai menyadari “objek sejati” dari pencarian diri sejatinya. Dalam syair berikut, Rumi mengisyaratkan intensitas pencariannya, yang terakhir dengan hasil yang mengejutkan. Bahwa apa yang ia cari selama ini justru terdapat dalam hatinya sendiri:

Salib dan kristen dari sudut ke sudut

telah kuli atasi. Aku tidak menganut salib.

Rumah berhala kukunjungi, kuil kuno;

tak ada rasa yang bisa kutangkap;

Aku mengunjungi pegunungan Herat dan Kandahar;

Aku lihat, Dia tidak di kedalaman (jurang) atau ketinggian

(gunung) di sana.

Dengan niat, aku daki puncak Gunung Qaf;

di tempat itu tiada apa-apa kecuali ‘Anga’

Aku arahkan pencarianku menuju Ka’bah;

dia bukan berada di tempat orang tua dan muda yang

mendapat ilham itu.

Aku tanya Ibnu Sina tentangnya,

dia di luar pengetahuan Ibnu Sina.

Aku mengunjungi ruang “persidangan”;

dia tidak ada di pengadilan Agung itu.

Aku tilik ke dalam hatiku, di sanalah aku menemukannya;

Dia tidak berada di mana-mana (di tempat lain).

Syair ini pada dasarnya menjelaskan proses pencarian mistik Rumi, dari ruang lingkup eksternal agama ke dalam inti batinnya, dan transformasi jiwanya kepada tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Melalui transformasi inilah, Rumi menyadari kekurangan hal-hal yang selama ini ia anggap hakiki. 

Cinta sangat berpengaruh bagi siapa saja yang mencintai. Cinta sangat luar biasa dan mengubah segalanya. Dalam hal ini Rumi menyatakan melalui syairnya:
                                                
Sungguh, cinta dapat mengubah yang pahit menjadi manis, debu beralih emas, keruh menjadi bening, sakit menjadi sembuh, penjara berubah menjadi telaga, derita menjadi nikmat, dan kemarahan menjadi nikmat.

Cintalah yang mampu melunakkan besi, menghancur leburkan batu karang, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan padanya, serta membuat budak menjadi pemimpin. Dengan pengaruhnya yang luar biasa pada jiwa manusia, cinta juga dapat mempercepat perjalanan manusia menuju Tuhan.

Cinta punya lima ratus sayap, dan setiap sayap (mengembang)Dari atas langit ke bawah bumi.

Orang yang zuhud (zahid) berlari; kekasih (Tuhan) terbang
Lebih cepat dari kilat dan angin.

“Bebaskanlah dirimu  dari dunia dan cara jalan kaki, karena (hanya) elang sang raja yang menemukan jalannya kepadasang Maharaja.”

“Cinta”, ujar Jalaluddin, adalah penyembah bagi kebanggaan dan  kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri. Hanya mereka yang berjubah cinta sajalah yang sepenuhnya tidak mementingkan diri.

Maka apabila sang pecinta ingin mendapatkan cinta dari kekasihnya, ia harus bisa menghilangkan kebanggaan dan kesombongan dirinya. Dan ketika kebanggaan dan kesombongan itu telah hilang, kemudian timbullah kesadaran diri. Pada saat seperti ini sang pecinta akan memiliki jiwa yang luhur dan menggantikan jiwa yang kerdil, karena jiwa yang kerdil hanyalah dimiliki oleh orang yang egois dan cinta diri. Maka cinta terhadap kekasih akan melenyapkan egoisme dan cinta diri sehingga luhurlah jiwanya.

Cinta menumbuhkan kebebasan dan jiwa untuk menjadi cinta. Cinta Rumi kepada kawannya, Syamsuddin Tabriz, membuatnya bebas untuk menemukan ungkapan jiwanya sendiri yang menemukan saluran melalui puisinya. Cinta, jiwa, dan kebebasan menyatu. Namun, pada saat itu terjadi, kehidupan Rumi berputar balik. Setelah menyatakan kebebasannya untuk mencintai dari jiwanya, Rumi tidak lagi berperilaku layaknya syaikh yang baik dan tidak lagi peduli dengan harapan-harapan yang lazim. Ia menjadi benar-benar bebas, hanya mempedulikan jiwanya sendiri dan cintanya yang bebas kepada Tuhan. Rumi berkata:

Lagi-lagi, aku berada dalam diriku sendiri

Aku berjalan pergi, tetapi ke sinilah aku berlayar kembali,

Kaki di udara, jungkir balik,

Seperti seorang wali ketika dia membuka matanya

Ditengah doa : sekarang, ruangan,

Taplak meja, wajah-wajah yang akrab.

Cinta Rumi kepad Ilahi menghendaki “keadaan mabuk” di mana keadaan ini mengisyaratkan tentang keintiman cinta Rumi kepada Tuhan. Dalam konteks ini, Rumi menerangkan simbol-simbol tertentu yang berkenaan dengan kemabukan, seperti anggur dan cawang. “Tuhan adalah cawang dan anggur: Dia tahu cinta seperti apa pun situasiku”.

Dalam syair berikut, Rumi mengekspresikan ekstase yang hebat ketika anggur cinta Ilahi menyentuh jiwanya:

Rembulan yang tak pernah disaksikan langit bahkan dalam mimpi,

telah kembali.

Dan datanglah api yang tak bisa dipindahkan air apa pun.

Lihatlah rumah tubuh, dan pandanglah jiwaku, Ini membuat mabuk

dan kerinduan itu dengan cawang cintanya.

Ketika pemilik kedai itu menjadi kekasih hatinya,

Darahku berubah menjadi anggur dan hatiku menjadi “kabab”.

Ketika pandangan dipenuhi ingatan kepadanya, datang suara:

Baguslah wahai cawang, hebatlah, wahai anggur!

Cinta ilahi membutuhkan keikhlasan yang dapat memelihara hati manusia dari syirik (kemusyrikan) dan mengantarkannya pada tingkat tauhid yang paling tinggi, yaitu ma’rifat kepada Allah (ma’rifatullah).

Rumi, ketika mabuk cinta mencapai puncaknya, perkawinan jiwa dalam penyatuan mistik terjadi. Dalam penyatuan inilah perbedaan antara pencinta dan yang Dicinta sirna oleh perubahan ke dalam Hakikat Cinta Universal.

Keadaan Rumi seperti ini, karena dipengaruhi oleh cinta yang begitu membara di hatinya. Cinta bisa mengkonsentrasikan semua daya. Dengan adanya cinta semua potensi yang dimiliki oleh sang pencinta, pikiran, perilaku dan sepak terjang pencinta akan disatukan dan dikerahkan  untuk mencari sesuatu yang tidak terjangkau oleh indra lahiriah. Karana itulah hatinya hanya  terisi oleh pikiran tentang ma’syuq (yang Dicintai). Di manapun, kemana pun, dan pada saat yang bagaimanapun,sang pencinta terus dibuaikan oleh hasrat cintanya untuk selalu menghadirkan sang kekasih ke dalam jiwanya. 


Sumber bacaan:
1. Mulyadhi Kartanegara, Jalal Al- Din Rumi : Guru Sufi dan Penyair Agung, Teraju, Jakarta, 2004
2. Syamsun Ni’am, Cinta Ilahi Perpestif Rabi’ah Al-Adawiyah dan Jalaluddin Rumi, Risalah Gusti, Surabaya, 2001
3. Reynold A. Nicholson, Mistik Dalam Islam, Bumi Angkasa, Jakarta, 2000
4. A. Reza Arasteh, Sufisme dan Penyempurnaan Diri, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002
5. Denise Breton dan Christopher Largent,  Cinta, Jiwa & Kekerasan di Jalan Sufi: Menari Bersama Rumi, Pustaka Hidayah, Bandung, 2003
6. Annemarie Schimmel, Akulah Angin Engkaulah Api: Hidup dan Karya Jalaluddin Rumi

Post a Comment

0 Comments