Disqus for langgart

Transendental Sajak Setelah Kata: Telaah Buku Puisi "Putih Atas Biru" Karya Setyo Widodo

Pengantar untuk Telaah Puisi "Putih Atas Biru" Setyo Widodo
Transendental Sajak Setelah Kata
Oleh: Eko Tunas*


BERPUISI adalah proses transendensi, imanensi dalam impulsi. Batas antara sadar dan tidak sadar. Satu endapan pengalaman yang muncul hampir tanpa dimensi ruang dan waktu.

Ia mirip pencuri yang datang tak diundang. Kita mesti menangkap misterinya. Kala logika kita bicara dan teriak maling, maka larilah dia..lenyap ditelan kesadaran.

Kala kita teriak tadi, maka puisi menjadi kata. Misteri menjadi bahasa kata. Di sinilah dosa puisi berlaku. Penyair mengejar arti kata, dan pembaca mencari makna dalam kata.

Padahal saat mengintai pencuri kita mesti mendengar bunyi. Harus waskita terhadap irama misteri. Penyair adalah empu pengupas knowledge. Hingga menemu inti pengetahuan.

Bagaimana knowledge tidak sekadar diungkap semata language. Tapi ada sound language, ada tone language. Bunyi kata dan irama kata-kata itulah bahasa puisi.

Kita dengar bunyi dan irama kata dalam satu baid puisi Setyo:

Ku lukis wajahmu
Di antara rinai dan tik-tak hujan
tak sepadan
: wagu
Ku lukis tik-tak hujan dan rinai
Di antara wajahmu tiara beruntai
menjuntai
: pilu

Dari bait ini Setyo memberi semacam interlude:

Ah kau sedang memuja luka
bahkan menyembah duka
Ku temukan isyarat pada galau
pada jejak-jejak lampau

Sampai di sini puisi ini sebenarnya sudah selesai. Sang pencuri sudah tertangkap, bunyi kata dan irama misteri itu. Tapi acap penyair ragu, jangan-jangan ada teman si maling. Ternyata betul Setyo menangkap pencuri kedua. Jadi puisi ini ada dua, yang kedua ini:

tahukah kau!
karang tak mengaduh saat ombak mencerca
bulan berpayah merengkuh purnama
malam pun rebah seiring gulana
perjalanan ini, sayang!
tak pernah lempang
bertumpuk riak berabuk gelinjang
lalui dan enyahkan salempang
jernih wajahmu usir bimbang

Barangkali Setyo mau memberi epilog, setelah prolog dan interlude. Tapi tampaknya imanensi dan impulsinya sudah berubah. Tanda-tanda sudah berganti. Pilu-duka-lampau dalam tanda hujan, telah beranjak ke rengkuh-sayang-gelinjang dalam tanda bulan dan ombak. 

Saya tidak akan membongkar tanda-tanda itu. Sebab itu rahasia tanda penyairnya, dan interpretasi penikmatnya. Saya tidak punya hak merebut komunikasi penyair dan penikmatnya. Saya hanya mau menunjuk, tegursapa 'sukma dan sukma' (Rendra) itulah keberadaan tetap gerak dalam ruang hati.

Tuangan 'bahasa' atas imanensi dalam impulsi itulah estetika...

BEAUTY
Jean Paul Sartre berujar, "beauty is truth, truth is beauty": keindahan adalah kebenaran, kebenaran adalah keindahan. Siapa bisa menangkap keindahan kebenaran selain pengampu estetika.

Saat kita berelan aestetik, maka keledai dungulah kita. Kita sering berulang mendendangkan lagu barat tanpa kita tahu artinya. Kita sering melafalkan doa tanpa paham maknanya.

Tapi kita bisa ekstase dan takzim karenanya. Ialah lantaran estetika itu. Lalu di mana sang estetika itu, di lagu itu atau di dalam diri kita. Puisi Chairil Anwar sekali pun, siapa tahu arti dan maknanya.

Berapa ratus mulut membacakan larik dalam puisi Chairil. Aku ini binatang jalang/dari kumpulannya yang terbuang. Tanpa tahu apa maksud Chairil menulis secara eksistensial tentang Aku-binatang-jalang.

Bagaimana subyektivasi Chairil, dan bagaimana aku-lirik dalam puisi Aku. Siapa memahami, betapa Chairil mengandaikan diri..sudah binatang jalang..dari kumpulannya yang terbuang pula..!

Satu puisi Setyo yang utuh dan purna adalah ini:

Hujan bara
mendera: sesak di dada

Sepenggal nafas hendak kutidurkan
di sebelah impian

Andai tiap dendang jatuh ke malam
kemana harus kusanding paham

Andai esok tak lagi kujelang
kemana harus kupungut sayang

Bulan tepat purnama
meliuk di celah awan menggoda
bayu entah mengapa tak meracau

: atau menelisikku yang risau

Sematkan kecupmu
di sungging bibirku
tak hendak aku menduakan kenang
meski kelak tak lagi kusandang

Secara personae saya suka larik: sepenggal nafas hendak ku tidurkan/di sebelah impian. Satu kalimat dengan kata-kata biasa. Tapi saat aku-lirik menemu bunyi dan irama, di situlah kalimat menjadi larik. Tidak ada maksud mengais artistika, tapi di sini artistika menjelma estetika.

Bahkan temuan teks tidak sekadar tekstual, tapi menjadi semacam reffrain. Sebagaimana reff-reff populer dalam sajak-sajak Chairil. Misalnya pada Setyo: tak hendak aku menduakan kenang. Nyaris seakan mengejar persajakan, tapi jadi temuan reff/(ikon) tak terpungkiri.

Kala pembaca menikmati bunyi dan iramanya saja, ya itulah puisi...

TRUTH
Puisi perlawanan sekali pun, ada keberadaan dalam ruang hati yang menggerakkan diri. Siapa tidak mengenal larik puisi Wiji Thukul: hanya satu kata..lawan! Mengapa puisi itu menggerakkan orang dalam satu komitmen.

Setiap orang bisa berteriak..lawan. Setiap orang juga bisa membuat kalimat dengan kata lawan. Tapi siapa yang menemukan larik puisi: hanya satu kata..lawan! Ada kebenaran dalam keindahan. Ada keindahan dalam kebenaran.

Keindahan dan kebenaran yang menggerakkan itu. Larik Thukul itu semacam kalam dari perjalanan kreativitasnya. Satu kalam yang kalau ditanya, bagaimana cara menemukannya. Maka jawabnya, teruslah berproses, menggali pengalaman dan memuisikannya.

Dengan proses itu akan ketemu (atau tidak) sang kalam itu. Atau kata atas peng-alam-an. Sehingga dari itu pengalamanlah yang menguji kepenyairan penyair. Bahwa penyair bersyair karena kehendak alam dan pengalaman seutuh-seluruh hidupnya.

Penyair bukan (tukang) membuat syair. Tapi karena secara rokhani ia mesti mesti menuliskan tiap jejak pengalamannya. Sebagaimana pencerita akan menghasilkan cerpen. Sebagaimana peracau akan menghasilkan lakon atau novel. Tanpa dibuat-buat, tanpa direkayasa.

Mari tilik pusi Setyo ini:

Ketika aku mencintaimu
jarak adalah angka-angka merah
ku gadang di tiap gelisah
ku tepuk dada cita yang ruah

Ketika aku merinduimu
jarak adalah bentangan waktu
ku kujar ku lipat hingga kuyu
getar di buluh samar merayu

Ketika ku cintaimu
jarak adalah nisbiku
hilang angkaku lenyap waktuku
sunyi di antara tawa: menjamu

Tampak puisi ini dihasilkan setelah penyairnya melewati proses perjalan waktu. Atau kerap disebut sebagai fase dalam proses kreatif. Sehingga puisi ini tampak lebih berusia dari sajak-sajak sebelumnya. Lebih liat dalam bunyi dan segar dalam irama.

Atau bisa disebut ada kedewasaan dalam menggauli sang puisi. Di sini kata cinta jadi hablur dari sekadar arti. Ia menjadi keindahan kata dan kebenaran puisi dalam estetika itu. Meski Nietzsche betkata: kebenaran adalah sejenis kesalahan yang tanpanya manusia tidak bisa hidup.

Tapi kita telah menyuarakannya, meski lirih bunyi dan irama di gebalau dunia.....

Semarang hujan Februari 2017




* Eko Tunas
Seniman serba bisa. Budayawan, Monologer, Seni Lukis.
Saat ini tinggal di Banyumanik Kota Semarang.
Penasehat Pondokbanjar


Post a Comment

0 Comments