Disqus for langgart

13 Prinsip Pendidikan Pesantren yang Perlu Anda Ketahui

Pondokbanjar rihlah ilmiah ke Masjid Agung Jawa Tengah
SESUAI dengan tujuan pendidikan yang digunakan serta fungsinya yang komprehensif sebagai lembaga pendidikan, sosial dan penyiaran agama, prinsip-prinsip sistem pendidikan yang ada di pesantren adalah:

1. Prinsip Theocentric
Prinsip ini memandang semua aktivitas manusia harus senantiasa diarahkan pada pencapaian nilai ibadah kepada Tuhan. Semua aktivitas pendidikan merupakan bagian integral dari totalitas kehidupan, sehingga belajar di pesantren tidak dipandang sebagai alat tetapi dipandang sebagai tujuan. Oleh karena itu kegiatan belajar-mengajar di pesantren tidak memperhitungkan waktu.

Prinsip ibadah mengajarkan agar sesuatu tindakan bisa bernilai ibadah, ia harus diarahkan dan didasarkan atas niat mencapai ridho Tuhan. Tanpa niat seperti ini, tidak ada artinya amal yang dilakukan.

2. Prinsip sukarela dan mengabdi
Para pengasuh pesantren memandang semua kegitan pendidikan sebagai ibadah kepada Tuhan. Oleh karena itu, maka penyelenggaraan pesantren dilaksanakan secara sukarela dan mengabdi pada sesama dalam rangka mengabdi kepada Tuhan. Sebagaimana perintah agama, bahwa santri wajib menghormati ustadznya serta saling menghormati satu sama lain. Santri yakin bahwa dirinya tidak menjadi orang berilmu tanpa guru dan bantuan sesama.Untuk itu banyak santri yang mengabdikan dirinya di pesantren sampai bertahun-tahun tanpa pamrih hanya untuk mencapai ridla Allah semata.

3. Prinsip kearifan
Pesantren menekankan pentingnya kearifan dalam menyelenggarakan pendidikan pesantren dan dalam tingkah laku sehari-hari. Kearifan yang dimaksud disini adalah berperilaku sabar, rendah hati, berbuat adil dan amar ma’ruf nahi mungkar, mampu mencapai tujuan tanpa merugikan orang lain dan mendatangkan manfaat bagi kepentingan bersama.

4. Prinsip kesederhanaan
Pesantren menekankan pentingnya penampilan sederhana sebagai salah satu nilai luhur pesantren dan menjadi pedoman perilaku sehari-hari bagi seluruh warga pesantren. Kesederhanan bukanlah kemiskinan, melainkan hidup secara wajar, proporsional dan tidak berkebihan, terutama pada materi.

Kesederhanaan sudah menjadi ciri kehidupan pesantren, seluruh elemen pesantren berusaha untuk memperoleh ridlo Allah dengan senantiasa mendekatkan diri kepada-Nya dan tidak memikirkan kepentingan duniawi. Mereka membiasakan diri untuk hidup dalam kesufian.

5. Prinsip kolektivitas
Menurut Mastuhu, di pesantren berlaku prinsip bahwa santri harus mendahulukan kewajiban dan kepentingan orang lain di atas kepentingan sendiri, sehingga terjadi kekompakan, rasa solidaritas dan persaudaran yang erat di antara para santri. Dalam pesantren, upaya kebersamaan diciptakan melalui kegiatan-kegiatan setiap hari, misalnya kegiatan keagamaan dan kegiatan belajar.

6. Prinsip Mandiri
Santri dilatih untuk mengatur dan bertanggung jawab atas keperluannya sendiri. Prinsip ini tidak bertentangan dengan prinsip kolektivitas, bahkan sebaliknya justru menjadi bagian dari padanya, karena mereka menghadapi nasib dan kesukaran yang sama. Maka jalan yang baik setiap individu mengatasi masalahnya ialah tolong-menolong. Disisi lain, santri dituntut aktif dan mampu memilih yang sesuai dengan kebutuhannya. Keberanian mengambil sikap ini sangat menentukan kesuksesan seorang santri

7. Prinsip mengagungkan ilmu
Seorang santri (pelajar) tidak akan memperoleh kesuksesan ilmu dan tidak pula ilmunya dapat manfaat, selain jika mau mengagungkan ilmu itu sendiri, ahli ilmu dan menghormati keagungan gurunya. Ada dikatakan:” Dapatnya orang mencapai sesuatu hanya karena mengagungkan sesuatu itu, dan gagalnya juga hanya karena tidak mau mengagungkannya”.

Mengagungkan ilmu maksudnya memandang ilmu sebagai sesuatu yang agung, sebagai sarana mencapai kebahagiaan dunia dan akherat, bukan sebagai hasil kajian pemikiran belaka. Keberhasilan santri dalam memperoleh ilmu tergantung kesucian hati, restu atau berkah kiai dan upaya-upaya ritual yang lain, seperti puasa, shalat sunah, doa-doa dan sebagainya.

8. Prinsip restu kiai-kiai
Prinsip ini sudah menjadi pedoman para santri, bahwa semua perbuatan yang dilakukan oleh setiap warga pesantren sangat tergantung pada restu kiai. Baik ustadz maupun santri berusaha jangan sampai melakukan hal-hal yang tidak berkenan di hadapan kiai. Dalam pendidikan pesantren, kiai adalah sosok yang diagungkan dan mempunyai pengaruh yang dominan  disetiap kegiatan yang ada di pesantren, karena segala sesuatu yang akan dilakukan oleh santri harus mendapat restu dari kiai untuk mendapatkan keberkahannya.

9. Prinsip estafet
Dalam sistem pendidikan pesantren, semua tanggung jawab tidak menjadi tanggungan kiai, melainkan dibantu oleh santri-santri senior yang dianggap mampu. Mereka mewakili kiai untuk membimbing santri baru.
Ada beberapa keuntungan yang bisa didapat dari model pendidikan seperti ini, antara lain:
1. Santri merasa mendapat kepercayaan dari kiainya sehingga tumbuh rasa tangggung jawabnya.
2. Santri mendapat pengalaman secara kongkrit, hal itu penting untuk bekal mereka saat kembali ke masyarakat kelak.
3. Santri mendapat kesempatan berlatih mengaktualisasikan ilmunya secara baik dan maksimal.

10. Prinsip hubungan orang tua dan anak
Dalam pendidikan pesantren, ada kaitan yang erat antara kiai dan santri. Ikatan tersebut lebih bersifat emosional dan akan terus terjalin meski santri telah menyelesaikan pendidikannya. Sedemikian eratnya, sehingga hubungan antara kiai dan santrinya bukan lagi hubungan guru dan murid, melainkan hubungan orang tua dengan anaknya. Demikian pula hubungan antara sesama santri bukan lagi hubungan pertemanan, melainkan hubungan persaudaraan. Dengan hubungan yang demikian, maka akan sangat membantu santri dalam menguasai ilmu, karena tumbuh rasa percaya diri dan rasa tentram dalam diri santri.

11. Prinsip kebebasan terpimpin
Seperti prinsip-prinsip diatas, prinsip ini digunakan di pesantren dalam menjalankan kebijaksanaan kependidikannya. Dalam kehidupan sosial, individu juga mengalami keterbatasan-keterbatasan, baik keterbatasan kultural maupun struktural. Namun demikian, manusia juga memiliki kebebasan mengatur dirinya sendiri.

Atas dasar itu pesantren memperlakukan kebebasan dan keterikatan sebagai hal kodrati yang harus diterima dan dimanfaatkan sebagaimana mestinya dalam kegiatan belajar-mengajar. Hal itu tercermin dari pandangan kiai bahwa kepada anak wajib ditanamkan jiwa agama, yang akan menjadi dasar kepribadiannya, tetapi pada saat menginjak dewasa, anak itu sendirilah yang akan memilih jalan hidupnya, apakah akan ingkar atau beriman dan bertaqwa pada Tuhan.

Misalnya: seorang kiai berkeyakinan bahwa kesan pertama yang ditanamkan kepada santri akan mempengaruhi secara mendalam kepribadian selanjutnya. Untuk itu sebelum mereka memasuki tingkat belajar yang lebih tinggi, kepada mereka diajarkan kitab-kitab awal seperti fiqih, tasawuf, takrib, dan Ta’limul Muta’alim dan sebelum itu santri dibiasakan mengikuti shalat, puasa dan sebagainya. Contoh lain, kebijaksaan seorang kiai yang menyatakan bahwa” santri yang belajar di pesantren bagaikan orang yang akan berbelanja di pasar. Tergantung apa yang akan dibelinya dan berapa banyaknya.Hal ini tergantung berapa banyak uang yang dibawanya.

Sehubungan dengan itu maka sikap pesantren dalam melaksanakan pendidikan adalah membantu dan mengiring anak didiknya, tetapi pesantren juga berpegang teguh pada tata tertib pesantren, terutama pada hukum agama.

12. Prinsip tanpa ijazah
Prinsip tanpa ijazah artinya pesantren tidak memberikan ijazah sebagai tanda keberhasilan belajar. Keberhasilan bukan ditandai oleh ijazah yang berisikan angka-angka sebagaimana madrasah dan sekolah umum, tetapi ditandai oleh prestasi kerja yang diakui oleh khalayak dan mendapat restu kiai.

13. Prinsip mengatur kegiatan bersama
Dibawah bimbinga ustadz dan kiai para santri mengatur hampir semua kegiatan proses belajar-mengajar terutama berkenaan dengan kegiatan kokurikuler, dari pembentukan organisasi santri, penyusunan program-programnya, sampai pelaksanaan dan pengembagannya. Disamping itu juga, mereka mengatur kegiatan-kegiatan perpustakaan, keamanan, pelaksanaan peribadatan, koperasi, olah raga, kursus-kursus keterampilan, penataran-penataran, diskusi atau seminar dan sebagainya. Sepanjang kegiatan mereka tidak berpaling dari akidah syari’ah agama, dan tata tertib pesantren, mereka tetap bebas berpikir dan bertindak.

Prinsip-prinsip pendidikan pesantren tersebut sebenarnya merupakan nilai-nilai kebenaran universal, dan pada dasarnya sama dengan nilai-nilai luhur kehidupan masyarakat Jawa. (Pondokbanjar)


Sumber bacaan:
1. Mastuhu, Sistem Pendidikan pesantren, INIS, Jakarta, 1994
2. Tamyiz Burhanuddin, Akhlak Pesantren Solusi Bagi Kerusakan Akhlak, Ittaqa Press, Yogyakarta, 2001

Post a Comment

0 Comments